kecintaan seorang Ali…

Posted: Oktober 10, 2011 in Uncategorized

kalau cinta berawal dan berakhir karena Allah,
maka cinta yang lain hanya upaya menunjukkan cinta padaNya,
pengejawantahan ibadah hati yang paling hakiki:
selamanya memberi yang bisa kita berikan,
selamanya membahagiakan orang-orang yang kita cintai.
-M. Anis Matta-

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya. Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!

Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.

Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali. Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah. ’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.

”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.

”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu. Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.

Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. ’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah.
’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..” Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.

Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi. ’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”
’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha. Mencintai tak berarti harus memiliki. Mencintai berarti pengorbanan untuk kebahagiaan orang yang kita cintai. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak. Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri. Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan.

”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”

”Aku?”, tanyanya tak yakin.

”Ya. Engkau wahai saudaraku!”

”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”

”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah.
Ya, menikahi.

Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan.

Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.

Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi. Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”

”Entahlah..”

”Apa maksudmu?”

”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”

satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang. Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti. ’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”

Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan.

Yang pertama adalah pengorbanan.
Yang kedua adalah keberanian.

Dan bagi pencinta sejati, selalu ada yang manis dalam mencecap keduanya.
Di jalan cinta para pejuang, kita belajar untuk bertanggungjawab atas setiap perasaan kita..

Jalan Cinta Para Pejuang
By. Ust. Salim A. Fillah


FOODBORNE AND WATERBORNE DISEASES

Definisi

Foodborne Diseases dan Waterborne Diseases adalah penyakit yang disebabkan karena mengkonsumsi makanan atau minuman yang tercemar. Foodborne disease disebabkan oleh berbagai macam mikroorganisme atau mikroba patogen yang mengkontaminasi makanan, jadi terdapat bermacam-macam infeksi foodborne disease.
Selain itu, zat kimia beracun, atau zat berbahaya lain dapat menyebabkan foodborne disease jika zat-zat tersebut terdapat dalam makanan. Makanan yang berasal baik dari hewan maupun tumbuhan dapat berperan sebagai media pembawa mikroorganisme penyebab penyakit pada manusia. foodborne diseases sering terjadi bahkan terdapat sekitar 5,4 juta kejadian per tahun di Australia.

Penyebab Foodborne dan Waterborne Diseases

Penyebab umumnya adalah:


Foodborne disease
yang paling sering terjadi diketahui antara lain yang disebabkan oleh bakteri Campylobacter, Salmonella, dan E. coli O157 : H7 dan oleh golongan virus calicivirus, yang juga sering disebut sebagai Norwalk virus.

Keterangan:
Campylobacter adalah bakteri patogen yang dapat menyebabkan demam, diare dan keram perut. Merupakan bakteri yang paling sering menyebabkan sakit diare di dunia. Bakteri ini hidup di usus ayam sehat dan pada permukaan karkas unggas. Sumber infeksi sebagian besar karena memakan daging ayam yang masih mentah, atau belum matang atau makanan lain yang telah bersentuhan dengan karkas ayam selama dalam proses pengolahan sehingga tercemar oleh bakteri ini.
Salmonella juga merupakan bakteri yang terdapat pada usus unggas, reptilia dan mamalia. Bakteri ini dapat menyebar ke manusia melalui berbagai macam pangan asal hewan. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini disebut salmonellosis, menyebabkan demam, diare dan keram perut. Pada orang yang kondisi kesehatannya buruk atau sistem kekebalan tubuhnya lemah, bakteri ini dapat menembus sistem peredaran darah dan menyebabkan infeksi yang serius terhadap tubuh.
E. Coli O157: H7 merupakan bakteri patogen yang mempunyai reservoir pada hewan ternak dan hewan lain yang sejenis, misalnya sapi. Manusia dapat terkena bakteri ini jika mengkonsumsi makanan atau minuman yang telah tercemar oleh feses dari ternak ini.

Gejala Umum

Gejalanya tak tentu – tergantung dari penyebabnya dan bisa termasuk menceret, muntah, mual, sakit perut dan demam. Gejala lainnya mungkin sakit kepala, sakit kuning atau baal. Berkembangnya gejala ini bisa berjam-jam, berhari-hari atau lebih lama lagi dan biasanya berlangsung beberapa hari atau ada kalanya lebih lama.
Gejala yang lain bisa juga seprti diare berdarah dan kesakitan karena keram perut, tanpa disertai demam. Pada 3-5 % dari kasus yang terjadi, beberapa minggu setelah gejala awal tampak, terdapat komplikasi yang yang disebut hemolytic uremic syndrom (HUS). Kompilasi ini menyebabkan anemia, perdarahan dan gagal ginjal.
Setelah kuman itu tertelan, mereka berdiam diri, yang disebut dengan masa inkubasi, sebelum gejala penyakit timbul. Masa inkubasi ini dapat berkisar dari beberapa jam hingga beberapa hari, tergantung pada jenis kuman dan berapa banyak kuman yang tertelan. Selama masa inkubasi, kuman ini melewati lambung masuk kedalam usus, menempel pada sel sepanjang dinding usus dan mulai memperbanyak diri.
Beberapa jenis kuman lain tinggal dalam usus, ada pula yang menghasilkan toksin/racun yang kemudian diserap masuk dalam peredaran darah. Adapula yang dapat secara langsung menyerang jaringan tubuh yang lebih dalam. Gejala yang ditimbulkan tergantung pada jenis mikroba dan jumlah yang menginfeksi.
Sebagian besar kuman menyebabkan gejala yang sama terutama diare, keram perut, dan muntah. Untuk mengetahui jenis kuman yang menginfeksi perlu pemeriksaan secara laboratoris.

Siapa yang bisa terkena?

Siapa pun bisa terkena foodborne dan waterbone diseases, tetapi ada orang yang lebih rentan terkena sakit parah, yaitu:

 

Pengobatan

Banyak orang mendapat gejala ringan lalu cepat sembuh. Orang yang menceret dan muntah sebaiknya tidak masuk kerja atau sekolah dulu dan minum banyak. Orang yang bisa kehabisan cairan tubuh misalnya anak kecil dan orang lansia patut ke dokter lebih dini. Biasanya tidak diperlukan antibiotika kecuali jika serius.

Cara pencegahannya

1.Kebersihan
Sesudah ke WC, mengganti popok, sebelum makan atau menyiapkan makanan, cucilah tangan dengan teliti memakai sabun dan kucuran air setidaknya 15 detik, lalu keringkanlah dengan handuk bersih. Orang yang mendapat gejala penyakit ini tidak patut menyiapkan makanan bagi orang lain.

2.Pemantauan suhu
Menyimpan makanan pada suhu yang keliru bisa berakibat membiaknya kuman yang menyebabkan racun makanan, yang tumbuh di antara suhu 5° C dan 60° C. Untuk berjaga-jaga:

 

3.Cara Menyimpan
Daging, ikan, unggas dan sayur yang mentah bisa mengandung banyak kuman, dan juga mencemari makanan yang sudah siap jika tidak disimpan atau ditangani dengan cermat. Untuk berjaga-jaga:

 

Contoh Foodborne dan Waterborne Diseases

CHOLERA

Kolera adalah penyakit yang sudah langka di negara-negara perindustrian dalam seratus tahun belakangan ini, tetapi penyakit ini masih sering terdapat di beberapa bagian dunia termasuk sub-benua India dan bagian benua Afrika di sebelah selatan gurun Sahara (sub-Sahara).

Definisi Cholera
Kolera adalah penyakit diare akut, yang disebabkan oleh infeksi usus akibat terkena bakteria Vibrio Cholerae.

Penyebaran (Distribusi) Cholera
Seseorang dapat terkena kolera bila minum air atau makan makanan yang telah terkontaminasi bacteria kolera. Dalam situasi adanya wabah (epidemic), biasanya, tinja orang yang telah terinfeksi menjadi sumber kontaminasi. Penyakit ini dapat menyebar dengan cepat di tempat yang tidak mempunyai penanganan pembuangan kotoran (sewage) dan pengolahan air minum yang memadai.
Bakteria kolera juga dapat hidup di lingkungan air payau dan perairan pesisir. Kerang-kerangan (shellfish) yang dimakan mentah juga dapat menjadi sumber kolera. Biasanya, penyakit ini secara langsung tidak menular dari orang ke orang karena itu, kontak biasa dengan penderita tidak menjadi resiko penularan.

Gejala Cholera

Infeksi biasanya ringan atau tanpa gejala, tapi terkadang parah. Kurang lebih 1 dari setiap 20 penderita mengalami sakit yang berat dengan gejala diare yang sangat encer, muntah-muntah, dan kram di kaki. Bagi mereka yang mengalami gejala seperti ini ini, mereka kehilangan cairan tubuh secara cepat ini sehingga mengakibatkan dehidrasi dan shock atau reaksi fisiologik hebat terhadap trauma tubuh. Kalau tidak diatasi, kematian dapat terjadi dalam beberapa jam.
dibutuhkan waktu sekitar 5 hari untuk menimbulkan gejala sejak manusia terinfeksi. gejala tersebut biasanya terjadi sekitar 2-3 hari.

Diagnosis Cholera

Diagnosis Cholera dilakukan secara biokomia dengan melakukan uji laboratorium. bakteri Vibrio cholerae di mikroskop elektron akan terlihat seperti berikut:

Jika biakan Vibrio cholerae ditumbuhkan pada media agar TCBS (Thiosulphate Citrate Bile Salt Sucrose) akan terlihat seperti berikut:

Selective agar (TCBS) merupakan cara yang ideal untuk melakukan isolasi dan identifikasi. Test kits secara komersial digunakan / dipakai di daerah epidemik tetapi tes menggunakan isolasi dari antimikroba ini tidak bisa digunakan pada diagnosis rutin.

Pencegahan Cholera

Pencegahan cholera bisa dilakukan dengan 5 cara (five basic prevention), yaitu:
1.Minum dan gunakan air yang aman.
meminum air yang sudah dimasak, setelah air mendidih angan langsung di ambl tetapi biarkan tetap mendidih selama 1 menit setelah itu boleh dikonsumsi.
air yang aman bisa juga ditambahi kaporit (chlorine) atau yodium. gunakan air ini untuk gosok gigi, mencuci, menyiakan makanan.
2.Sesering mungkin mencuci tangan dengan sabun dan air yang aman

  • sebelum makan dan menyiapkan makanan
  • sebelum menyuapi anak
  • setelah BAB dan BAK
  • setelah mencucui pakaian
  • setelah merawat anak/orang yang sedang diare

3.Gunakan latrines (toilet) atau system sanitasi yang lain untuk membuang feses dan usahakan agar tidak mengkontaminasi sumber air bersih
jarak antara smber air bersih dengan septitenk adalah sekitar 30 meter jika tidak bisa minimal 10 meter.
4.Masak makana dengan baik, jaga agar selalu dalam keadaaan tertutup, makan selagi panas dan kupas atau bersihkan sayur dan buah sebelum dimakan
5.Cuci bersi semua peralatan dapur, perabot rumah juga baju

boil it, cook it, peel it, or forget it

Vaksin

Salah satu bentuk upaya control diseases dari penyakit cholera adalah dengan menggunakan vaksin. ada 2 oral vaksin yang memungkinkan untuk mengatasi penyakit cholera, yaitu
*Dukoral (manufactured oleh SBL Vaccines) yang direkomendasikan oleh organisasi kesehatan dunia (WHO) dan dipakai oleh kurang lebih sekitar 60 negara.
*ShanChol (manufactured oleh Shanta Biotec di India), yang sudah di berikan di negara India tetapi masih menunggu konfirmasi dari WHO.
Di Indonesia setelah terjadinya tsunami yang besar di Aceh, WHO juga memberikan rekomendasi vaksin Dukoral. atas rekomendasi WHO Indonesia mendapat bantuan berupa vaksin Dukoral untuk para korban tsunami di Aceh.

References:
http://www.deptan.go.id/wap/berita_detailtampil.php?no_berita=96
http://www.mhcs.health.nsw.gov.au/publication_pdfs/7120/DOH-7120-IND.pdf
http://www.bt.cdc.gov/disasters/tsunamis/translations/cholerabasaha.pdf
http://www.cdc.gov/cholera/general/
http://www.cdc.gov/cholera/diagnosis.html
http://www.cdc.gov/cholera/pdf/Five-Basic-Cholera-Prevention-Messages.pdf
http://www.cdc.gov/cholera/prevention.html
http://www.cdc.gov/haiticholera/pdf/cholera_preventionandcontrol.pdf

AULIA NUR HIDAYATI
FKM Undip

sahabat saya ingin berbagi sedikit pengalaman….
Ahad, 9 Januari 2011 menjadi hari yang sangat berkesan dalam hidupq…. Sungguh pengalaman yang sangat menakjubkan dan tak kan terlupakan…. Hemmmm…..
Aq mengikuti kegiatan wisata ziarah yang diadakan oleh para remaja di kampoeng ….. wisata ziarah sangat efektif untuk mengingat mati pikirQ apa salahnya jika aq ikut berangkat dan mengingat bahwa keamatian itu sungguh sangat dekat tak ada yang bisa memperkirakan…. Jika kita mau menyadari bahwa kematian sangat dekat dengan kita bukankah kita akan lebih memaknai kehidupan???
Sempat merasa iri kepada para ulama yang kamii ziarahi….. banyyak sekali yang melantunkan dzikir dan tahlil untuk mereka, melantunkan doa, memohonkan ampun kepada-NYA……. Bukankah sangat membahagiakan jika setelah kita meninggal banyak yang mengingat dan mendoakan kita…. Memohonkan ampunan, Rahman dan Rahim-NYA….
ALLAHU AKBAR……
Dan tak terasa beberapa tetes air mengalir dari mataq, membasahi pipi….. sungguh sangat menakutkan jika pada saat ini ALLAH memanggil ruh kita, padahal bekal yang kita tabung belum mencukupi untuk menjajaki jalan syurga…. Bukan…. Bahkan bukan menjajaki jalan syurga akan tetapi bau syurga pun belum mampu kita cium…… astaghfirullah…….
Jika malaikat Izrail telah datang, kita tak bisa melakukan teknik lobbying lagi…… apa yang mau di loby kalau memang itu telah menjadi takdir…… kita hanya bisa pasrah dan berdoa saja semoga tabungan amal yang kita punya cukup untuk menyelamatkan kita di akhirat…….. dan yang terpenting jangan sia-siakan hal-hal kecil yang bisa menambah tabungan amal kita…… semoga kita selalu berada dalam lindungan dan ridho-NYA…….. AMIN…….
ALLAHU AKBAR……
Sehari melakukan berbagai kunjungan ke beberapa daerah ini, bukan saja mengingatkanq akan kematian yang sungguh sebenarnya sangat dekat…… tapi banyak sekali ibrah yang bisa diambil dalam kunjungan ini……
Betapa tidak, setelah berakhir kunjungan ziarah, kami beranjak kembali ke rumah…….. tetapi sangat mengagetkan ketika sampai di sebuah jembatan besar di daerah Muntilan, Magelang, kami tidak diperkenankan melewati jembatan tersebut karena banjir lahar dingin kembali terjadi dan lebih parah daripada banjir lahar dingin pada hari Senin yang lalu…… hanya tinggal kurang lebih 1 meter lahar dingin mampu sampai ke daratan… jembatan pun bergoyang karena banjir tersebut……. Bukan hanya air, akan tetapi pasir dan batu pun ikut hanyut terbawa……
Mobil yang kami naiki mulai meragu untuk melanjutkan perjalanan….. sampai akhirnya kami memilih untuk putar arah…….. kami mulai mencari jalan keluar agar bisa menemukan jalan pulang…… tetapi malangnya arah yang kami tuju itu ternyata menjumpai hal yang sama, jembatan darurat yang sedang berada dalam masa perbaikan tersebut juga tidak bisa dilewati justru jembatan ini lebih parah…… akhirnya setelah beberapa lama terdiam ditempat kami memutuskan untuk mencari jalan lain, lewat Borobudur saja!!!!! Awal perjalanan terasa menyenangkan karena kami pikir bahwa kami telah mendapatkan jalan keluar…… perjalanan terasa mencekam dengan ketegangan para penumpang dan lampu-lampu jalan yang mati membuat hati semakin berdebar…….di tengah perjalanan beberapa mobil yang kami jumpai meminta kami memutar arah karena jalan yang kami tuu terjadi longsor……… Aq hanya bisa tersenyum dan melucu saja agar penumpang lain yang satu mobil denganq tidak semakin panik……….. jujur aq juga panic tetapi aq tak ingin menunjukkan kepanikanq kepada semua orang……. Mendengar perang komentar para penumpang dan keluhan mereka sungguh membuat kepalaq hendak pecah……. Penat sekali rasanya……..
Kemudian kita berhenti sejenak untuk memikirkan jalan terbaik dengan tanpa kepanikan dan pemikiran jernih……… salah seorang berkata bahwa rombongan yang lain mengalami hal yang lebih sulit karena mereka terjepit diantara longsoran di tempat kami tadi memutar arah…….. suasanan semakin menegangkan……. Kepanikan kembali terjadi…..
Akhirnya diambil jalan, kami kembali ke arah jalan utama tempat jembatan pertama yang kami jumpai……. Alhamdulillah ternyata jalan tersebut telah dibuka kembali…… kami melanjutkan perjalanan dan selamat sampai di rumah………. Wawh…… pengalaman ini baru sekali kurasakan…… lega sekali rasanya setelah selama lebih dari 2 jam kami terkurung dalam kepanikan dan ketakutan…….
Sahabat apa kira-kira ibrah yang bisa kita ambil dari peristiwa yang aq alami????
Aq pikir memang kesabaran itu tiada duanya…… kemudian tenang dan berpikir jernih ditengah kepanikan sangat penting……. Lalu aq pikirkan lagi jika kami hanay menunggu di dekat jembatan yang pertama atau jembatan yang kedua akan sangat berbahaya karena air samapi ke daratan, karena kami mencari jalan keluar dengan berbolak-balik kea rah yang sama beberapa kali itu merupakan jalan yang ALLAH berikan sembari menunggu air surut….. dan benar saja kan terbukti setelah perjalanan panjang dan kami kembali ke jalan utama ternyata jalan sudah dibuka kembali……. ALLAHU AKBAR!!!!
Memang pertolongan ALLAH itu sangat dekat tanpa kita sadari…….


Kegiatan penanggulangan KLB
1. Penetapan populasi rentan thd KLB berdasarkan waktu, tempat pada kelompk masyarakat
2. Langkah-langkah penetapan populasi rentan :
Memperkirakan adanya pop rentan KLB berdasar informasi dan data serta mempelajari gambaran klinis (gejala,cara penularan,cara pengobatan) dan gambaran epid (sumber&cara penularan, klp masy yg sering terserang, jml kasus,kematian, faktor ling, budaya yg berpengaruh thd KLB)
3. Pengumpulan data (laporan rutin, data penyelidikan epid, laporan rutin data kesakitan&kematian dr puskesmas/RS yg teratur & lengkap, data lab yg memberikn infoms penyebab peny, data faktor risiko
4. Pengolahan dan penyajian data (tabel, grafk, peta)
5. Analisis dan interpretasi
6. Deseminasi informasi
Selain yang dsebut diatas juga yang perlu diperhatikan dalam penanggulangan KLB adalah sebagai berikut:
• Melakukan upaya pencegahan melalui perbaikan faktor risiko yg menyebabkan timbulnya kerentanan dlm suatu pop
Upaya penanggulangan ditujukan pd:
 Kuman penyakit dr sumber penularan
 Memutus mata rantai penularan
 Memperkuat sistem pelayanan kesh
• Memantapkan pelaksanaan sistem kewaspadaan dini KLB penyakit
• Memantapkan keadaan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan tjd KLB
• Penyelidikan dan penanggulangan pd saat tjd KLB

Ada juga beberapa tindakan yang bisa dilakukan:
1. Tindakan terhadap kasus
Anamnesa
Pemeriksaan fisik
Pengambilan sediaan utk pemeriksaan laboratorium
– Darah
– Tinja
– Contoh Makanan
Diagnosa
Terapi
Isolasi
2. Tindakan terhadap masyarakat
a.Tindakan health promotion
b.Tindakan specific protection
c.Pencarian kasus
Cara telusur ke belakang (backward tracing)
Cara telusur ke depan (forward tracing)
3. Tindakan terhadap lingkungan
a. Lingkungan Fisik
Tindakan terhadap lingkungan fisik yang masih baik
Tindakan terhadap lingkungan fisik yang telah tercemar
Tindakan terhadap lingkungan fisik yang dipakai sebagai sarang vektor
b. Lingkungan Biologik
Tindakan terhadap binatang yang sehat
Tindakan terhadap binatang yang sakit
Tindakan terhadap vektor
Yang perlu digaris bawah ketika terjadi KLB langkah-langkah penting yang harus dilakukan dalam penyelidikan epidemiologi adalah sebagai berikut:
• Konfirmasi/menegakkan diagnosa (suspect cases, confirmed cases)
• Memastikan adanya suatu KLB (dibandingkan periode sebelumnya), pastikan surveilans berjln baik, informasi vektor,lingk,perilaku pddk
• Rumusan hipotesis
• Pengumpulan data epid (primer & sekunder)
PRIMER :kuesioner berdasar variabel epid 5W 1 H, pengambilan spesimen
SEKUNDER:jml kasus periode sblmnya ( min 1 th), pola penykt, vektor, dt lingk
• Pengolahan data, analisis data dan interpretasi data
• Rumusan kesimpulan
• Tindakan penanggulangan

AULIA NUR HIDAYATI
FKM UNDIP

Kejadian Luar Biasa (KLB)

Posted: Desember 15, 2010 in Dasar Epidemiologi
Tag:,


Kejadian Luar Biasa (KLB) merupakan salah satu istilah yang sering digunakan dalam epidemiologi. Istilah ini juga tidak jauh dari istilah wabah yang sring kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Kedua istilah ini sering digunakan akan tetapi sering kali kita tidak mengetahui apa arti kedua kata tersebut. Saya berikan beberapa istilah yang mungkin bisa membantu.
Menurut UU : 4 Tahun 1984
Apa Itu Wabah:
Wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka.

Apa Itu KLB:
Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu.
Setelah mengetahui pengertian dari wabah dan KLB selanjutnya yang perlu diketahui lagi adaklah batasan-batasan KLB yang dapat diuraikan sebagai berikut:
Meliputi semua kejadian penyakit, dapat suatu penyakit infeksi akut kronis ataupun penyakit non infeksi.
Tidak ada batasan yang dapat dipakai secara umum untuk menentukan jumlah penderita yang dapat dikatakan sebagai KLB. Hal ini selain karena jumlah kasus sangat tergantung dari jenis dan agen penyebabnya, juga karena keadaan penyakit akan bervariasi menurut tempat (tempat tinggal, pekerjaan) dan waktu (yang berhubungan dengan keadaan iklim) dan pengalaman keadaan penyakit tersebut sebelumnya.
Tidak ada batasan yang spesifik mengenai luas daerah yang dapat dipakai untuk menentukan KLB, apakah dusun desa, kecamatan, kabupaten atau meluas satu propinsi dan Negara. Luasnya daerah sangat tergantung dari cara penularan penyakit tersebut.
Waktu yang digunakan untuk menentukan KLB juga bervariasi. KLB dapat terjadi dalam beberapa jam, beberapa hari atau minggu atau beberapa bulan maupun tahun.

Kriteria KLB
KLB meliputi hal yang sangat luas seperti sampaikan pada bagian sebelumnya, maka untuk mempermudah penetapan diagnosis KLB, pemerintah Indonesia melalui Keputusan Dirjen PPM&PLP No. 451-I/PD.03.04/1999 tentang Pedoman Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan KLB telah menetapkan criteria kerja KLB yaitu :

1. Timbulnya suatu penyakit/menular yang sebelumnya tidak ada/tidak dikenal.
2. Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus selama 3 kurun waktu berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun)
3. Peningkatan kejadian penyakit/kematian, 2 kali atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun).
4. Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan dua kali lipat atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya.
5. Angka rata-rata per bulan selama satu tahun menunjukkan kenaikan dua kali lipat atau lebih dibanding dengan angka rata-rata per bulan dari tahun sebelumnya.
6. Case Fatality Rate dari suatu penyakit dalam suatu kurun waktu tertentu menunjukan kenaikan 50% atau lebih, dibanding dengan CFR dari periode sebelumnya.
7. Propotional Rate (PR) penderita baru dari suatu periode tertentu menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibanding periode yang sama dan kurun waktu/tahun sebelumnya.
8. Beberapa penyakit khusus : Kholera, “DHF/DSS”, (a)Setiap peningkatan kasus dari periode sebelumnya (pada daerah endemis). (b)Terdapat satu atau lebih penderita baru dimana pada periode 4 minggu sebelumnya daerah tersebut dinyatakan bebas dari penyakit yang bersangkutan.
9. Beberapa penyakit yg dialami 1 atau lebih penderita: Keracunan makanan, Keracunan pestisida.

Dari penjelasan diatas kita bisa membagi klasifikasi KLB,
Klasifikasi KLB menurut Penyebab:
1.Toksin
Entero toxin, misal yang dihasilkan oleh Staphylococus aureus, Vibrio, Kholera, Eschorichia, Shigella.
Exotoxin (bakteri), misal yang dihasilkan oleh Clostridium botulinum, Clostridium perfringens.
Endotoxin.

2.Infeksi
Virus.
Bacteri.
Protozoa.
Cacing.

3.Toksin Biologis
Racun jamur.
Alfatoxin.
Plankton
Racun ikan
Racun tumbuh-tumbuhan

4. Toksin Kimia
Zat kimia organik: logam berat (seperti air raksa, timah), logam-logam lain cyanida.
Zat kimia organik: nitrit, pestisida.
Gas-gas beracun: CO, CO2, HCN, dan sebagainya

Sumber KLB

* Manusia misal: jalan napas, tenggorokan, tangan, tinja, air seni, muntahan, seperti : Salmonella, Shigella, Staphylococus, Streptoccocus, Protozoa, Virus Hepatitis.
* Kegiatan manusia, misal : Toxin biologis dan kimia (pembuangan tempe bongkrek, penyemprotan, pencemaran lingkungan, penangkapan ikan dengan racun).
* Binatang seperti : binatang piaraan, ikan, binatang mengerat, contoh : Leptospira, Salmonella, Vibrio, Cacing dan parasit lainnya, keracunan ikan/plankton
* Serangga (lalat, kecoa, dan sebagainya) misal : Salmonella, Staphylokok, Streptokok.
* Udara, misal : Staphyloccoccus, Streptococcus, Virus, pencemaran udara.
* Permukaan benda-benda/alat-alat misal : Salmonella.
* Air, misalnya : Vibrio Cholerae, Salmonella.
Makanan/minuman, misal : keracunan singkong, jamur, makanan dalam kaleng.
Penyakit wabah
Beberapa penyakit dari sumber di atas yang sering menjadi wabah:
1. Kholera
2. Pes
3. Demam kuning
4. Demam bolak-balik
5. Tifus bercak wabah
6. Demam Berdarah Dengue
7. Campak
8. Polio
9. Difteri
10. Pertusis
11. Rabies
12. Malaria
13. Influensa
14. Hepatitis
15. Tipus perut
16. Meningitis
17.Encephalitis
18.SARS
18.Anthrax

PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI
(MALARIA, TB PARU, CAMPAK, KEMATIAN IBU, DAN LAHIR MATI)

1. MALARIA
Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh sekelompok parasit yang bernama plasmodium yang hidup di intra sel darah merah. Secara umum penyebaran penyakit malaria sangat dipengaruhi oleh tiga faktor yang saling mendukung yaitu host, agent dan environment sesuai teori The Traditional (Ecological) Model yang dikemukakan oleh Dr.John Gordon (Kodim, 1999).
• Host
faktor intrinsik yang dapat memengaruhi kerentanan host terhadap agent yaitu usia, jenis kelamin, ras, riwayat malaria sebelumnya, gaya hidup, sosial ekonomi, status gizi dan tingkat immunisasi.
• Agent
Parasit malaria yang terdapat pada manusia ada empat spesies yaitu :
 Plasmodium falciparum penyebab malaria tropika yang menyebabkan malaria berat.
 Plasmodium vivax penyebab malaria tertiana.
 Plasmodium malariae penyebab malaria quartana
 Plasmodium ovale spesies ini banyak dijumpai di Afrika dan Fasifik Barat (Depkes, 1999).
• Environtment
 Lingkungan fisik : meliputi suhu, kelembaban, hujan, ketinggian, angin, sinar matahari dan arus air.
 Lingkungan kimia : meliputi kadar garam yang cocok untuk berkembangbiaknya nyamuk Anopheles sundaicus.
 Lingkungan biologik : adanya tumbuhan, lumut, ganggang, ikan kepala timah, gambusia, nila sebagai predator jentik Anopheles spp, serta adanya ternak sapi, kerbau dan babi akan mengurangi frekuensi gigitan nyamuk pada manusia.
 Lingkungan sosial budaya : meliputi kebiasaan masyarakat berada di luar rumah, tingkat kesadaran masyarakat terhadap bahaya penyakit malaria dan pembukaan lahan dengan peruntukannya yang memengaruhi derajat kesehatan masyarakat dengan banyak menimbulkan breading places potensial untuk berkembangbiaknya nyamuk Anopheles spp (Depkes, 2003b).

Pada anamnesa adanya riwayat bepergian ke daeah yang endemis malaria tanda dan gejala yang dapat ditemukan adalah :
1. Demam
Demam periodik yang berkaitan dengan saat pecahnya skizon matang (sporulasi) pada malaria tertiana (P. Vivax dan P. Ovale). Pematangan skizon tiap 48 jam maka periodisitas demamnya setiap hari ke 3, sedangkan malaria kuartania (P. Malariae) pematangannya tiap 72 jam dan periodisitas demamnya tiap 4 hari. Tiap seangan ditandai dengan bebeapa serangan demam periodik. Demam khas malaria terdiri atas 3 stadium, yaitu menggigil (15 menit – 1 jam), puncak demam (2 – 6 jam), dan tingkat berkeringat (2 – 4 jam). Demam akan mereda secara bertahan karena tubuh dapat beradaptasi terhadap parasit dalam tubuh dan ada respon imun.
2. Splenomegali
Merupakan gejala khas malaria kronik. Limpa mengalami kongeori menghitam dan menjadi keras karena timbunan pigmen eritrosit parasit dan jaringan ikat yang bertambah.
3. Anemia
Derajat anemia tergantung pada spesies penyebab, yang paling kerap adalah anemia karena P. Falciparum. Anemia disebabkan oleh :
a. Penghancuran eritrosit yang berlebihan
b. Eritrosit normal tidak dapat hidup lama
c. Gangguan pembentukan eritrosit karena depresi eritrosit dalam sum-sum tulang belakang.
d. Ikterus
Disebabkan karena hemolisis dan gangguan hepar.

Setelah mengetahui informasi tentang malaria apabila di suatu tempat terjadi gejala yang mirip dengan gejala yang telah dipaparkan diatas maka bisa dilakukan penyelidikan epidemiologi. Misalkan pada suatu daerah X terjadi kasus 100 orang mengalami gejala yang mirip dengan gejala malaria yaitu demam secara periodic lalu bagaimana kita melakukan penyelidikan epidemiologi dengan kasus tersebut?
Maka hal yang perlu dilakukan pertama kali adalah pastikan apakah daerah tersebut merupakan daerah endemic malaria atau bukan. Dan dilihat juga apakah di tahun- tahun yang lalu ada riwayat malaria di daerah tersebut atau tidak. Jika setelah diketahui bahwa daerah tersebut ternyata:
 bukan daerah endemic malaria dan juga tidak mempunyai riwayat malaria serta tidak ada spesies vector malaria yang tinggal di daerah tersebut maka dapat diambil hipotesis bahwa gejala yang terjadi hanya indikasi penyakit biasa saja. Bisa saja kebetulan mereka telah melakukan perjalanan bersama ke sebuah daerah endemic malaria dan secara bersama di gigit anopheles yang telah mengandung plasmodium sehingga mereka juga terkena penyakit yang sama.
 Namun ketika ternyata diketahui bahwa daerah tersebut memang daerah endemic malaria maka tahap selanjutnya adalah bentuk kuratif pada penderitanya dan proses pencegahan bagi warga yang lain.
 Atau bisa juga kasus tersebut merupakan kasus KLB (Kejadian Luar Biasa), bisa saja pada musim tertentu populasi nyamuk anopheles mengungsi ke daerah tersebut sehingga memungkinkan untuk terjadi penularan malaria.
2. TB PARU
Tuberculosis (TBC) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. TBC terutama menyerang paru-paru sebagai tempat infeksi primer. Selain itu, TBC dapat juga menyerang kulit, kelenjar limfe, tulang, dan selaput otak. TBC menular melalui droplet infeksius yang terinhalasi oleh orang sehat. Pada sedikit kasus, TBC juga ditularkan melalui susu. Pada keadaan yang terakhir ini, bakteri yang berperan adalah Mycobacterium bovis.
Menurut WHO (1999), di Indonesia setiap tahun terjadi 583 kasus baru dengan kematian 130 penderita dengan tuberkulosis positif pada dahaknya. Sedangkan menurut hasil penelitian kusnindar 1990, Jumlah kematian yang disebabkan karena tuberkulosis diperkirakan 105,952 orang pertahun. Kejadian kasus tuberkulosa paru yang tinggi ini paling banyak terjadi pada kelompok masyarakat dengan sosio ekonomi lemah. Terjadinya peningkatan kasus ini disebabkandipengaruhi oleh daya tahan tubuh, status gizi dan kebersihan diri individu dan kepadatan hunian lingkungan tempat tinggal.
Gejala Umum :
• Batuk terus menerus dan berdahak selama lebih dari 2 minggu
Gejala lain yang sering dijumpai :
• Dahak bercampur darah
• Batuk darah
• Sesak nafas dan rasa nyeri dada
• Badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan menurun, rasa kurang enak badan (malaise), berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan, demam meriang lebih dari satu bulan.
Kasus TB paru merupakan salah satu jenis penyakit menular. Penularan bisa melalui udara,air ludah, dahak, dll. Penderita TB Paru BTA positif mengeluarkan kuman-kuman keudara dalam bentuk droplet yang sangat kecil pada waktu batuk atau bersin. Droplet yang sangat kecil ini mengering dengan cepat dan menjadi droplet yang mengandung kuman tuberkulosis. Dan dapat bertahan diudara selama beberapa jam. Droplet yang mengandung kuman ini dapat terhirup oleh orang lain. Jika kuman tersebut sudah menetap dalam paru dari orang yang menghirupnya, maka kuman mulai membelah diri (berkembang biak) dan terjadilah infeksi dari satu orang keorang lain. Akan tetapi meskipun kuman telah masuk kedalam tubuh orang lain tetapi orang tersebut memiliki sistem imun yang kuat maka kemungkinan untuk terkena penyakit TB paru kecil.
Informasi mengenai TB paru secara umum telah dijabarkan sebagaimana diatas. Lalu bagaimana kita melakukan penyelidikan epidemiologi ketika kita menemui kasus gejala TB paru atau bahkan kasus paru?
Penyelidikan epidemiologi dimulai dengan mencari seberapa besar kasus TB paru yang terjadi dalam suatu wilayah. Cari tahu apakah wilayah tersebut termasuk jenis wilayah endemi atau pandemi. Kemudian jika telah diketahui bahwa kasus tersebut benar-benar kasus TB paru dan pada wilayah endemi maka segera dilakukan penanganan terhadap orang yang terkena TB paru dan populasi resikonya. Penyakit TB paru merupakan salah satu penyebab kematian terbesar di Indonesia oleh karena itu penanganannnya harus benar-benar tepat agar tidak menambah jumlah angka kematian.
Jika diketahui bahwa kasus tersebut masih tergolong kecil maka tidak akan menjadi masalah dan bisa segera ditangani. Setelah diketahui secara pasti mengenai kasus TB paru ini maka bisa diambil langkah kuratif dan penanganan yang lainnya. Seperti :
1. Penderita yang dalam dahaknya mengandung kuman dianjurkan untuk menjalani pengobatan di puskesmas.
2. Petugas dapat memberikan pengobatan jangka pendek di rumah bagi penderita secara darurat atau karean jarak tempat tinggal penderita dengan puskesmas cukup jauh untuk bisa berobat secara teratur.
3. Melaporkan adanya gejala sampingan yang terjadi, bila perlu penderita dibawa ke puskesmas.
Langkah Pencegahan
a) Status sosial ekonomi rendah yang merupakan faktor menjadi sakit, seperti kepadatan hunian, dengan meningkatkan pendidikan kesehatan.
b) Tersedia sarana-sarana kedokteran, pemeriksaan penderita, kontak atau suspect gambas, sering dilaporkan, pemeriksaan dan pengobatan dini bagi penderita, kontak, suspect, perawatan.
c) Pengobatan preventif, diartikan sebagai tindakan keperawatan terhadap penyakit inaktifdengan pemberian pengobatan INH sebagai pencegahan.
d) BCG, vaksinasi, diberikan pertama-tama kepada bayi dengan perlindungan bagi ibunya dan keluarhanya. Diulang 5 tahun kemudian pada 12 tahun ditingkat tersebut berupa tempat pencegahan.
e) Memberantas penyakti TBC pada pemerah air susu dan tukang potong sapi, dan pasteurisasi air susu sapi.
f) Tindakan mencegah bahaya penyakit paru kronis karean menghirup udara yang tercemar debu para pekerja tambang, pekerja semen dan sebagainya.
g) Pemeriksaan bakteriologis dahak pada orang dengan gejala tbc paru.
h) Pemeriksaan screening dengan tubercullin test pada kelompok beresiko tinggi, seperti para emigrant, orang-orang kontak dengan penderita, petugas dirumah sakit, petugas/guru disekolah, petugas foto rontgen.
i) Pemeriksaan foto rontgen pada orang-orang yang positif dari hasil pemeriksaan uberculin test.

3. CAMPAK
Campak merupakan penyakit virus yang dapat mendatangkan komplikasi serius. Pada masa lalu, infeksi campak sangat umum di kalangan anak-anak.
Kini campak jarang terjadi di NSW karena imunisasi.
Apa gejalanya?
• Gejala pertama adalah demam, lelah, batuk, hidung beringus, mata merah dan sakit, dan terasa kurang sehat. Beberapa hari kemudian timbul ruam. Ruam tersebut mulai pada muka, merebak ke tubuh dan berlanjut selama 4-7 hari.
• Sampai sepertiga penderita campak mengalami komplikasi, yang termasuk infeksi telinga, diare dan pneumonia, dan mungkin memerlukan rawat inap. Kira-kira satu dari setiap 1000 penderita campak terkena ensefalitis (pembengkakan otak).
Bagaimana penyakit ini ditularkan?
• Campak biasanya ditularkan sewaktu seseorang menyedot virus campak yang telah dibatukkan atau dibersinkan ke dalam udara oleh orang yang dapat menularkan penyakit. Campak merupakan salah satu infeksi manusia yang paling mudah ditularkan. Berada di dalam kamar yang sama saja dengan seorang penderita campak dapat mengakibatkan infeksi.
• Penderita campak biasanya dapat menularkan penyakit dari saat sebelum gejala timbul sampai empat hari setelah ruam timbul. Waktu dari eksposur sampai jatuh sakit biasanya adalah 10 hari. Ruam biasanya timbul kirakira 14 hari setelah eksposur.

Siapa saja yang menghadapi risiko?
Campak umum sebelum tahun 1966, maka kebanyakan orang yang lahir sebelum itu mempunyai kekebalan. Orang yang menghadapi risiko campak termasuk:
• orang yang lahir pada atau sejak tahun 1966 yang belum pernah menderita campak dan belum pernah menerima dua dosis vaksin Campak- Gondong-Rubela (MMR) dari usia 12 bulan
• orang yang mempunyai sistem kekebalan yang lemah (mis. orang yang sedang menerima kemoterapi atau radioterapi untuk kanker atau orang yang sedang menerima dosis besar obat steroid) meskipun telah diimunisasi sepenuhnya atau menderita infeksi campak sebelumnya
• orang yang tidak mempunyai kekebalan dan melakukan perjalanan ke luar
negeri.
Bagaimana penyakit ini dicegah?
• Perlindungan terbaik terhadap campak adalah imunisasi dengan dua dosis vaksin MMR. Vaksin ini memberikan perlindungan terhadap infeksi campak, di samping gondong dan rubela.
• Vaksin MMR harus diberikan kepada anak-anak pada usia 12 bulan dan osis kedua harus diberikan pada usia 4 tahun.
• Siapapun yang lahir pada atau sebelum tahun 1966 atau belum menderita infeksi campak atau menerima vaksinasi MMR harus memastikan bahwa telah menerima dua dosis vaksin MMR dengan selang waktu sekurangkurangnya empat minggu.
• Adalah aman untuk menerima vaksin lebih dari dua kali, maka orang yang kurang pasti harus divaksinasi.
• Penderita campak harus tetap tinggal di rumah sampai tidak lagi dapat menularkan penyakit (yaitu sampai 4 hari setelah ruam timbul).
• Bagi orang yang tidak mempunyai kekebalan dan telah mempunyai kontak dengan seorang penderita campak, adakalanya infeksi masih dapat dicegah dengan vaksin MMR jika diberikan dalam waktu 3 hari setelah eksposur atau dengan imunoglobulin dalam waktu 7 hari setelah eksposur.
Penanganan
• Bila campaknya ringan, anak cukup dirawat di rumah. Kalau campaknya berat atau sampai terjadi komplikasi maka harus dirawat di rumah sakit.
• Anak perlu dirawat di tempat tersendiri agar tidak menularkan penyakitnya kepada yang lain. Apalagi bila ada bayi di rumah yang belum mendapat imunisasi .
• Beri penderita asupan makanan bergizi seimbang dan cukup untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya. Makanannya harus mudah dicerna, karena anak campak rentan terjangkit infeksi lain, seperti radang tenggorokan, flu, atau lainnya. Masa rentan ini masih berlangsung sebulan setelah sembuh karena daya tahan tubuh penderita yang masih lemah.
• Lakukan pengobatan yang tepat dengan berkonsultasi pada dokter.
• Jaga kebersihan tubuh anak dengan tetap memandikannya.
• Anak perlu beristirahat yang cukup.

4. ANGKA KEMATIAN IBU
Kematian ibu adalah kematian perempuan pada saat hamil atau kematian dalam kurun waktu 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lamanya kehamilan atau tempat persalinan, yakni kematian yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, tetapi bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan, terjatuh dll (Budi, Utomo. 1985).

Angka Kematian Ibu (AKI) adalah banyaknya kematian perempuan pada saat hamil atau selama 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lama dan tempat persalinan, yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, dan bukan karena sebab-sebab lain, per 100.000 kelahiran hidup.
Penyebab Kematian Ibu
a) perdarahan, eklampsia atau gangguan akibat tekanan darah tinggi saat kehamilan, partus lama, komplikasi aborsi, dan infeksi. Perdarahan, yang biasanya tidak bisa diperkirakan dan terjadi secara mendadak, bertanggung jawab atas 28 persen kematian ibu. Sebagian besar kasus perdarahan dalam masa nifas terjadi karena retensio plasenta dan atonia uteri. Hal ini mengindikasikan kurang baiknya manajemen tahap ketiga proses kelahiran dan pelayanan emergensi obstetrik dan perawatan neonatal yang tepat waktu. Eklampsia merupakan penyebab utama kedua kematian ibu, yaitu 13 persen kematian ibu di Indonesia (rata-rata dunia adalah 12 persen)5. Pemantauan kehamilan secara teratur sebenarnya dapat menjamin akses terhadap perawatan yang sederhana dan murah yang dapat mencegah kematian ibu karena eklampsia

b) Aborsi yang tidak aman. bertanggung jawab terhadap 11% kematian ibu di Indonesia (ratarata dunia 13%). Kematian ini sebenarnya dapat dicegah jika perempuan mempunyai akses terhadap informasi dan pelayanan kontrasepsi serta perawatan terhadap komplikasi aborsi. Data dari SDKI 2002–2003 menunjukkan bahwa 7,2 persen kelahiran tidak diinginkan.
c) Prevalensi pemakai alat kontrasepsi. Kontrasepsi modern memainkan peran penting untuk menurunk an kehamilan yang tidak diinginkan. SDKI 2002–2003 menunjukkan bahwa kebutuhan yang tak terpenuhi (unmet need) dalam pemakaian kontrasepsi masih tinggi, yaitu sembilan persen dan tidak mengalami banyak perubahan sejak 1997. Angka pemakaian kontrasepsi (Contraceptive Prevalence Rate) di Indonesia naik dari 50,5 persen pada 1992 menjadi 54,2 persen pada 20026 (Gambar 5.2 dan Tabel 5.1). Untuk indikator yang sama, SDKI 2002– 2003 menunjukkan angka 60.3 persen.
d) Sepsis sebagai faktor penting lain penyebab kematian ibu sering terjadi karena kebersihan (hygiene) yang buruk pada saat persalinan atau karena penyakit menular akibat hubungan seks yang tidak diobati. Sepsis ini berkontribusi pada 10% kematian ibu (rata-rata dunia 15 persen). Deteksi dini terhadap infeksi selama kehamilan, persalinan yang bersih, dan perawatan semasa nifas yang benar dapat menanggulangi masalah ini. Partus lama, yang berkontribusi bagi sembilan persen kematian ibu (rata-rata dunia 8 persen), sering disebabkan oleh disproposi cephalopelvic, kelainan letak, dan gangguan kontraksi uterus.
e) Penyebab tidak langsung. Risiko kematian ibu dapat diperparah oleh adanya anemia dan penyakit menular seperti malaria, tuberkulosis (TB), hepatitis, dan HIV/AIDS. Pada 1995, misalnya, prevalensi anemia pada ibu hamil masih sangat tinggi, yaitu 51 persen, dan pada ibu nifas 45 persen.10 Anemia pada ibu hamil mempuyai dampak kesehatan terhadap ibu dan anak dalam kandungan, meningkatkan risiko keguguran, kelahiran prematur, bayi dengan berat lahir rendah, serta sering menyebabkan kematian ibu dan bayi baru lahir. Faktor lain yang berkontribusi adalah kekurangan energi kronik (KEK). Pada 2002, 17,6 persen wanita usia subur (WUS) men derita KEK.11 Tingkat sosial ekonomi, tingkat pendidikan, faktor budaya, dan akses terhadap sarana kesehatan dan transportasi juga berkontribusi secara tidak langsung terhadap kematian dan kesakitan ibu. Situasi ini diidentifikasi sebagai “3 T” (terlambat). Yang pertama adalah terlambat deteksi bahaya dini selama kehamilan, persalinan, dan nifas, serta dalam mengambil keputusan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan ibu dan neonatal. Kedua, terlambat merujuk ke fasilitas kesehatan karena kondisi geografis dan sulitnya transportasi. Ketiga, terlambat penanganan
Menurunkan kesakitan dan kematian ibu telah menjadi salah satu prioritas utama dalam pembangunan sektor kesehatan sebagaimana tercantum dalam Propenas. Kegiatan- kegiatan yang mendukung upaya ini antara lain meningkatkan pelayanan kesehatan reproduksi, meningkatkan pemberantasan penyakit menular dan imunisasi, meningkatkan pelayanan kesehatan dasar dan rujukan, menanggulangi KEK, dan menanggulangi anemia gizi besi pada wanita usia subur dan pada masa kehamilan, melahirkan, dan nifas.
Kehamilan Aman. Mengacu pada Indonesia Sehat 2010, telah dicanangkan strategi Making Pregnancy Safer (MPS) atau Kehamilan yang Aman sebagai kelanjutan dari program Safe Motherhood, dengan tujuan untuk mempercepat penurunan kesakitan dan kematian ibu dan bayi baru lahir. MPS terfokus pada pendekatan perencanaan sistematis dan terpadu dalam intervensi klinis dan sistem kesehatan serta penekanan pada kemitraan antar institusi pemerintah, lembaga donor, dan peminjam, swasta, masyarakat, dan keluarga. Perhatian khusus diberikan pada penyediaan pelayanan yang memadai dan berkelanjutan dengan penekanan pada ketersediaan penolong persalinan terlatih. Aktivitas masyarakat ditekankan pada upaya untuk menjamin bahwa wanita dan bayi baru lahir memperoleh akses terhadap pelayanan.
Strategi. Ada empat strategi utama bagi upaya penurunan kesakitan dan kematian ibu. Pertama, meningkatkan akses dan cakupan pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir yang berkualitas dan cost effective. Kedua, membangun kemitraan yang efektif melalui kerja sama lintas program, lintas sektor, dan mitra lainnya. Ketiga, mendorong pemberdayaan wanita dan keluarga melalui peningkatan pengetahuan dan perilaku sehat. Keempat, mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjamin penyediaan dan pemanfaatan pelayanan ibu dan bayi baru lahir.
Pesan kunci MPS. Strategi MPS memiliki tiga pesan kunci, yaitu setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih; setiap komplikasi obstetrik dan neonatal mendapatkan pelayanan yang memadai; dan setiap wanita usia subur mempunyai akses terhadap pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan komplikasi keguguran.
Kelompok sasaran. Perhatian khusus perlu diberikan kepada kelompok masyarakat berpendapatan rendah baik di perkotaan dan pedesaan serta masyarakat di daerah terpencil. Program Jaring Pengaman Sosial (JPS)—yang telah dimulai sejak 1998 telah menyediakan pelayanan pelayanan kesehatan dasar dan bidan di desa secara gratis bagi penduduk miskin—perlu dipertahankan dengan berbagai cara.
Konteks lebih luas. Terlepas dari kebijakan dan program dengan fokus pada sektor kesehatan, diperlukan juga penanganan dalam konteks yang lebih luas di mana kematian ibu terjadi. Kematian ibu sering disebabkan oleh berbagai faktor yang kompleks yang menjadi tanggung jawab lebih dari satu sektor. Terdapat korelasi yang jelas antara pendidikan, penggunaan kontrasepsi, dan persalinan yang aman. Pelayanan kesehatan reproduksi remaja harus ditangani dengan benar, mengingat besarnya masalah. Selain itu, isu gender dan hak-hak reproduksi baik untuk laki-laki maupun perempuan perlu terus ditekankan dan dipromosikan pada semua level.
5. LAHIR MATI

Lahir mati adalah kematian seorang bayi dari kandungan yang berumur paling sedikit 28 minggu, tanpa menunjukkan tanda-tanda kahidupan.
Penyebab lahir mati
• Kecacatan kelahiran – biasanya berpunca daripada struktur atau kecacatan kromosom.
• Tali pusat terjatuh (prolaps), iaitu apabila tali pusat terkeluar dari faraj terlebih dahulu sebelum bayi. Ini menghalang pengaliran darah dan oksigen.
• Masalah uri (plasenta)
o Pemisahan uri dari dinding rahim (uterus). Bayi tidak mungkin dapat hidup sekiranya uri telah terpisah dari tempat implantasinya.
o Implantasi uri di bahagain pangkal rahim/bahagian bawah rahim atau serviks. Keadaan ini dipanggil plasenta previa. Sekiranya keadaan ini tidak dikesan di peringkat awal, ia boleh menggagalkan peluang bayi untuk hidup dan pendarahan yang serius mungkin berlaku.
• Keadaan kesihatan ibu mengandung sebelum dan juga semasa kehamilan seperti ibu mengidap diabetes (kencing manis) dan tekanan darah tinggi. Keadaan ini merupakan penyebab penting kejadian lahir mati dan masalah ini perlu dipantau sepanjang tempoh kehamilan.
• Masalah pada tali pusat
o tali pusat terpintal menyebabkan terganggunya pengaliran oksigen dan juga nutrien kepada bay
o tali pusat itu terbelit pada leher bayi, yang menjadikan bayi tercekik dan lemas apabila ia mula bergerak ke bahagian bawah
• Tiada punca yang dapat dikenalpasti (merupakan separuh dari kes lahir mati) tetapi kemungkinan besar disebabkan oleh jangkitan.
Tanda-tanda dan gejala lahir mati
Biasanya tidak ada gejala atau simptom yang khusus atau pun sebarang amaran terhadap kejadian lahir mati. Walau bagaimanapun, sekiranya tanda-tanda atau gejala-gejala berikut berlaku, segeralah berjumpa doktor ataupun bidan yang terlatih:
• Pendarahan dari faraj – mungkin menjadi petanda kepada satu masalah yang lebih serius.
• Kurang atau tiada pergerakan janin
• Perubahan pada aktiviti atau pergerakan biasa bayi.
• Sakit pinggang (bahagian pelvis), belakang dan juga bahagian bawah abdomen – terasa menyucuk-nyucuk
• Tidak lagi terasa seperti sedang hamil dan anda dapat merasakan beberapa perubahan fizikal seperti payu dara menjadi semakin kecil.
Pencegahan
• Lazimnya, lahir mati berlaku tanpa sebarang amaran, tetapi kadang-kala ia boleh dijangka dan dielakkan
• Penilaian ke atas janin dijalankan pada ibu-ibu yang berisiko tinggi terhadap masalah lahir mati – seperti ibu-ibu yang mempunyai masalah kesihatan (yang ada diabetes dan tekanan darah tinggi) terutama pada minggu terakhir kehamilan. Sekiranya semasa penilaian janin tersebut terdapatnya penemuan yang luar biasa, maka usaha untuk melahirkan bayi itu lebih awal mungkin dapat mengelakkan kejadian lahir mati.
• Bagi sesetengah kes terpecah uri atau abrubsi plasenta (placenta abrubtion), pembedahan kecemasan Caesarean mungkin dapat menyelamatkan nyawa.
• Carta pergerakan janin digunakan oleh para doktor untuk menjejak pergerakan janin dilakukan beberapa kali dalam sehari, terutamanya selepas minggu ke 26 kehamilan. Sekiranya bayi itu kurang menendang atau bergerak dari biasa, penilaian lanjutan ke atas janin perlu dijalankan. Bagi sesetengah kes, sekiranya doktor dapati ada keabnormalan yang berlaku, maka aruhan kelahiran dengan menjalankan pembedahan Ceasarean mungkin dapat menyelamatkan keadaan.
• Jaga kesihatan diri anda dengan baik sebelum mengandung. Setelah mengandung, dapatkan penjagaan ibu mengandung seawal mungkin untuk memastikan keadaan bayi anda sihat. Doktor akan menjalankan ujian saringan bagi mengesan sebarang jangkitan. Di samping itu, beliau akan mengkaji rekod kesihatan dan memastikan sebarang keadaan yang serius atau kronik telah dirawat dengan sewajarnya.

Langkah-langkah berikut dapat membantu anda menikmati satu kehamilan yang sehat
• Bersenam dan, amalkan pemakanan yang baik dan ambillah 400mg (mikrogram) asid folik setiap hari
• Elakkan pengambilan alkohol, merokok atau ubat-ubatan kecuali yang diberikan oleh doktor anda.
• Jauhkan diri dari racun serangga

Segera hubungi doktor sekiranya :
• Anda hamil dan mengalami pendarahan, kesakitan atau kekejangan pada bahagian pinggang atau pelvis, belakang dan juga bahagian bawah abdomen.
• Anda dapati janin anda tidak begerak dengan aktif seperti sepatutnya.

Epidemiologi
1. Pengertian
Epidemiologi berasal dari bahasa Yunani yaitu
Epid: tentang
Demos: penduduk
Logos: ilmu
Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang penduduk. Akan tetapi untuk saat ini istilah tersebut tidak dipakai karena terlalu umum mempelajari masalah penduduk sedangkan pada saat ini epidemiologi lebih mempelajari penyakit dan segala sesuatu yang berkaitan dengan kesehatan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang penyakit dan masalah kesehatan yang berada di lingkungan penduduk.
2. Sejarah Epidemiologi
a. Hipocrates (400 SM): on airs, water, and places
Hipotesanya bahwa penyakit itu berhubungan dengan lingkungan termasuk pada perubahan musim sehingga tejadi variasi jenis penyakit.
b. Jhon Snow (1850) mengungkapkan masalah wabah hipotesanya bahwa cholera oleh air yang terkontaminasi. Beliau membedakan antara penduduk sesuai dengan air yang digunakan untuk kehidupan sehari-hari.
c. Doll and Hill (1950) mengungkapkan designed penelitian case control yang menggambarkan antara merokok dan kanker paru-paru.
d. Dawber (1955) mengungkapkan design cohor yaitu penelitian tentang faktor resiko penyakit cardiovaskuler pada pembelajaran Framingham Heart. Pada tahun ini epidemiologi mulai mempelajari menegnai penyakit tidak menular di Eropa.
Dilihat dari perkembangan sejarah epidemiologi dapat ditarik kesimpulan bahwa epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari masalah kesehatan pada populasi manusia yaitu mengenai frekuensi dan penyebaran, determinan serta faktor yang mempengaruhinya.
Di dalam mempelajari epidemiologi perlu diketahui 3 hal pokok pada epidemiologi yaitu:
a) Frekuensi masalah kesehatan, menunjukkan besarnya masalah kesehatan. Frekuensi masalah kesehatan ini perlu diketahui untuk mengetahui prioritas mana yang harus didahulukan.
b) Penyebaran masalah kesehatan. Pengelompokan masalah kesehatan dilakukan pada suatu keadaan tertentuyitu meliputi menurut orang, tempat, dan waktu.
c) Faktor determinan, merupakan faktor penyebab masalah kesehatan.
3. Prinsip dan Ruang Lingkup Epidemiologi
Prinsip epidemiologi
• Subyek dan obyek epidemiologi adalah masalah kesehatan.
• Masalah kesehatan yang dimaksud yaitu masalah kesehatan yang ditemukan dalam sekelompok orang.
• Dalam merumuskan penyebab timbulnya masalah kesehatan dimanfaatkan data tentang frekuensi dan penyebaran masalah tersebut.
Ruang Lingkup epidemiologi
Ruang lingkup masalah epidemiologi sangat luas meliputi penyakit menular, penyakit tidak menular, epidemiologi klinik dan masih banyak macamnya.
4. Tujuan epidemiologi
 Menjelaskan kejadian masalah kesehatanmelalui identifikasi sebab atau determinan
 Memprediksi jumlah dan distribusi masalah kesehatan dalam suata populasi.
 Memggambarkan frekuensi, distribusi, pola, kecenderungan kejadian penyakit atau masalah kesehatan dan status kesehatan.
 Mengendalikan distribusi dan masalah kesehatan di suatu populasi

Peranan epidemiologi dalam masalah kesehatan di masyarakat
Sebelumnya mari kita lihat capaian studi epidemiologi. Capaian study epidemiologi ada 3 yaitu:
1) Epidemiologi Deskriptif
Dalam epidemiologi deskriptif dipelajari bagaimana frekuensi penyakit berubah sesuai variabel orang, waktu, dan tempat.
Orang; akan dibicarakan bagaimana peranan umur, jenis kelamin, kelas sosial, pekerjaan, danparitas mempengaruhi status kesehatan.
Tempat; pengetahuan mengenai distribusi geografis suatu penyakit berguna untuk perencanaan pelayanan kesehatan dan dapat memberikan penjelasan mengenai etiologi penyakit.
Waktu; mempelajari hubungan antara waktu dan penyakit merupakan dasar didalam analisis epidemiologis karena perubahan penyakut menurut waktu menunjukkan adanya perubahan faktor etiologis.
2) Epidemiologi Analitik
Pendekatan ini digunakan untuk menguji data serta informasi yang diperoleh study epidemiologi deskriptif. Ada 3 macam studi epidemiologi analitik.
 Studi Riwayat Kasus (Case History Studies)
Dalam studi ini akan dibandingkan antara 2kelompok orang yang terkena wabah dengan yang tidak terkena wabah (kelompok kontrol).
 Studi Kohort (Kohort Studies)
Sekelompok orang dipaparkan pada suatu penyebab penyakit kemudian diambil sekelompok orang lagi yang mempunyai ciri-ciri yang sama dengan kelompok pertama tetapi tidak dipaparkan pada penyebab penyakit (kelompok kontrol). Setelah beberapa saat dkedua kelompok tersebut dibandingkan dan dicari makna perbedaan yang etrjadi antara dua kelompok tersebut.
 Epidemiologi Eksperimen
Dilakukan dengan mengadakan eksperimen kepada kelompok sunyek kemudian dibandingkan dengan kelompok kontrol.
Dari ketiga studi epidemiologi tersebut diatas dapat dilihat bahwa peranan epidemiologi dalam masalah kesehatan sangat penting. Dengan melakukan studi tersebut maka akan diperoleh faktor penyebab masalah kesehatan atau penyakit itu terjadi kemudian akan diketahui cara penyelesaiannya dan pada akhirnya nanti kita dapat mengendalikan masalah kesehatan itu dan mencegahnya agar tidak kembali pada suatu populasi serta dapat mencegah agar masalah kesehatan itu tidak menyerang populasi yang lain.
Epidemiologi memberikan gambaran mengenai masalah kesehatan, seberapa besar dan perlu atau tidaknya suatu masalah kesehatan diwaspadai.
Epidemiologi juga memberitahukan daerah mana yang perlu untuk ditangani terlebih dahulu, sesuai tingkatan daerah epidemiologi yaitu daerah endemik, pandemik, epidemik, dan sporadik.
Sumber :
Prof. Dr. Soekidjo Notoatmodjo. Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Cet. ke-2, Mei. Jakarta : Rineka Cipta. 2003.
Situs : http://www.geocities.com/klinikikm/epidemiologi/pengertian-peranan.htm
Modul materi “dasar epidemiologi” Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro 2010