PE (Penyelidikan Epidemiologi), penyakit Malaria, TB Paru, Campak, Angka Kematian Ibu (AKI), dan Lahir Mati

Posted: November 12, 2010 in Dasar Epidemiologi
Tag:

PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI
(MALARIA, TB PARU, CAMPAK, KEMATIAN IBU, DAN LAHIR MATI)

1. MALARIA
Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh sekelompok parasit yang bernama plasmodium yang hidup di intra sel darah merah. Secara umum penyebaran penyakit malaria sangat dipengaruhi oleh tiga faktor yang saling mendukung yaitu host, agent dan environment sesuai teori The Traditional (Ecological) Model yang dikemukakan oleh Dr.John Gordon (Kodim, 1999).
• Host
faktor intrinsik yang dapat memengaruhi kerentanan host terhadap agent yaitu usia, jenis kelamin, ras, riwayat malaria sebelumnya, gaya hidup, sosial ekonomi, status gizi dan tingkat immunisasi.
• Agent
Parasit malaria yang terdapat pada manusia ada empat spesies yaitu :
 Plasmodium falciparum penyebab malaria tropika yang menyebabkan malaria berat.
 Plasmodium vivax penyebab malaria tertiana.
 Plasmodium malariae penyebab malaria quartana
 Plasmodium ovale spesies ini banyak dijumpai di Afrika dan Fasifik Barat (Depkes, 1999).
• Environtment
 Lingkungan fisik : meliputi suhu, kelembaban, hujan, ketinggian, angin, sinar matahari dan arus air.
 Lingkungan kimia : meliputi kadar garam yang cocok untuk berkembangbiaknya nyamuk Anopheles sundaicus.
 Lingkungan biologik : adanya tumbuhan, lumut, ganggang, ikan kepala timah, gambusia, nila sebagai predator jentik Anopheles spp, serta adanya ternak sapi, kerbau dan babi akan mengurangi frekuensi gigitan nyamuk pada manusia.
 Lingkungan sosial budaya : meliputi kebiasaan masyarakat berada di luar rumah, tingkat kesadaran masyarakat terhadap bahaya penyakit malaria dan pembukaan lahan dengan peruntukannya yang memengaruhi derajat kesehatan masyarakat dengan banyak menimbulkan breading places potensial untuk berkembangbiaknya nyamuk Anopheles spp (Depkes, 2003b).

Pada anamnesa adanya riwayat bepergian ke daeah yang endemis malaria tanda dan gejala yang dapat ditemukan adalah :
1. Demam
Demam periodik yang berkaitan dengan saat pecahnya skizon matang (sporulasi) pada malaria tertiana (P. Vivax dan P. Ovale). Pematangan skizon tiap 48 jam maka periodisitas demamnya setiap hari ke 3, sedangkan malaria kuartania (P. Malariae) pematangannya tiap 72 jam dan periodisitas demamnya tiap 4 hari. Tiap seangan ditandai dengan bebeapa serangan demam periodik. Demam khas malaria terdiri atas 3 stadium, yaitu menggigil (15 menit – 1 jam), puncak demam (2 – 6 jam), dan tingkat berkeringat (2 – 4 jam). Demam akan mereda secara bertahan karena tubuh dapat beradaptasi terhadap parasit dalam tubuh dan ada respon imun.
2. Splenomegali
Merupakan gejala khas malaria kronik. Limpa mengalami kongeori menghitam dan menjadi keras karena timbunan pigmen eritrosit parasit dan jaringan ikat yang bertambah.
3. Anemia
Derajat anemia tergantung pada spesies penyebab, yang paling kerap adalah anemia karena P. Falciparum. Anemia disebabkan oleh :
a. Penghancuran eritrosit yang berlebihan
b. Eritrosit normal tidak dapat hidup lama
c. Gangguan pembentukan eritrosit karena depresi eritrosit dalam sum-sum tulang belakang.
d. Ikterus
Disebabkan karena hemolisis dan gangguan hepar.

Setelah mengetahui informasi tentang malaria apabila di suatu tempat terjadi gejala yang mirip dengan gejala yang telah dipaparkan diatas maka bisa dilakukan penyelidikan epidemiologi. Misalkan pada suatu daerah X terjadi kasus 100 orang mengalami gejala yang mirip dengan gejala malaria yaitu demam secara periodic lalu bagaimana kita melakukan penyelidikan epidemiologi dengan kasus tersebut?
Maka hal yang perlu dilakukan pertama kali adalah pastikan apakah daerah tersebut merupakan daerah endemic malaria atau bukan. Dan dilihat juga apakah di tahun- tahun yang lalu ada riwayat malaria di daerah tersebut atau tidak. Jika setelah diketahui bahwa daerah tersebut ternyata:
 bukan daerah endemic malaria dan juga tidak mempunyai riwayat malaria serta tidak ada spesies vector malaria yang tinggal di daerah tersebut maka dapat diambil hipotesis bahwa gejala yang terjadi hanya indikasi penyakit biasa saja. Bisa saja kebetulan mereka telah melakukan perjalanan bersama ke sebuah daerah endemic malaria dan secara bersama di gigit anopheles yang telah mengandung plasmodium sehingga mereka juga terkena penyakit yang sama.
 Namun ketika ternyata diketahui bahwa daerah tersebut memang daerah endemic malaria maka tahap selanjutnya adalah bentuk kuratif pada penderitanya dan proses pencegahan bagi warga yang lain.
 Atau bisa juga kasus tersebut merupakan kasus KLB (Kejadian Luar Biasa), bisa saja pada musim tertentu populasi nyamuk anopheles mengungsi ke daerah tersebut sehingga memungkinkan untuk terjadi penularan malaria.
2. TB PARU
Tuberculosis (TBC) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. TBC terutama menyerang paru-paru sebagai tempat infeksi primer. Selain itu, TBC dapat juga menyerang kulit, kelenjar limfe, tulang, dan selaput otak. TBC menular melalui droplet infeksius yang terinhalasi oleh orang sehat. Pada sedikit kasus, TBC juga ditularkan melalui susu. Pada keadaan yang terakhir ini, bakteri yang berperan adalah Mycobacterium bovis.
Menurut WHO (1999), di Indonesia setiap tahun terjadi 583 kasus baru dengan kematian 130 penderita dengan tuberkulosis positif pada dahaknya. Sedangkan menurut hasil penelitian kusnindar 1990, Jumlah kematian yang disebabkan karena tuberkulosis diperkirakan 105,952 orang pertahun. Kejadian kasus tuberkulosa paru yang tinggi ini paling banyak terjadi pada kelompok masyarakat dengan sosio ekonomi lemah. Terjadinya peningkatan kasus ini disebabkandipengaruhi oleh daya tahan tubuh, status gizi dan kebersihan diri individu dan kepadatan hunian lingkungan tempat tinggal.
Gejala Umum :
• Batuk terus menerus dan berdahak selama lebih dari 2 minggu
Gejala lain yang sering dijumpai :
• Dahak bercampur darah
• Batuk darah
• Sesak nafas dan rasa nyeri dada
• Badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan menurun, rasa kurang enak badan (malaise), berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan, demam meriang lebih dari satu bulan.
Kasus TB paru merupakan salah satu jenis penyakit menular. Penularan bisa melalui udara,air ludah, dahak, dll. Penderita TB Paru BTA positif mengeluarkan kuman-kuman keudara dalam bentuk droplet yang sangat kecil pada waktu batuk atau bersin. Droplet yang sangat kecil ini mengering dengan cepat dan menjadi droplet yang mengandung kuman tuberkulosis. Dan dapat bertahan diudara selama beberapa jam. Droplet yang mengandung kuman ini dapat terhirup oleh orang lain. Jika kuman tersebut sudah menetap dalam paru dari orang yang menghirupnya, maka kuman mulai membelah diri (berkembang biak) dan terjadilah infeksi dari satu orang keorang lain. Akan tetapi meskipun kuman telah masuk kedalam tubuh orang lain tetapi orang tersebut memiliki sistem imun yang kuat maka kemungkinan untuk terkena penyakit TB paru kecil.
Informasi mengenai TB paru secara umum telah dijabarkan sebagaimana diatas. Lalu bagaimana kita melakukan penyelidikan epidemiologi ketika kita menemui kasus gejala TB paru atau bahkan kasus paru?
Penyelidikan epidemiologi dimulai dengan mencari seberapa besar kasus TB paru yang terjadi dalam suatu wilayah. Cari tahu apakah wilayah tersebut termasuk jenis wilayah endemi atau pandemi. Kemudian jika telah diketahui bahwa kasus tersebut benar-benar kasus TB paru dan pada wilayah endemi maka segera dilakukan penanganan terhadap orang yang terkena TB paru dan populasi resikonya. Penyakit TB paru merupakan salah satu penyebab kematian terbesar di Indonesia oleh karena itu penanganannnya harus benar-benar tepat agar tidak menambah jumlah angka kematian.
Jika diketahui bahwa kasus tersebut masih tergolong kecil maka tidak akan menjadi masalah dan bisa segera ditangani. Setelah diketahui secara pasti mengenai kasus TB paru ini maka bisa diambil langkah kuratif dan penanganan yang lainnya. Seperti :
1. Penderita yang dalam dahaknya mengandung kuman dianjurkan untuk menjalani pengobatan di puskesmas.
2. Petugas dapat memberikan pengobatan jangka pendek di rumah bagi penderita secara darurat atau karean jarak tempat tinggal penderita dengan puskesmas cukup jauh untuk bisa berobat secara teratur.
3. Melaporkan adanya gejala sampingan yang terjadi, bila perlu penderita dibawa ke puskesmas.
Langkah Pencegahan
a) Status sosial ekonomi rendah yang merupakan faktor menjadi sakit, seperti kepadatan hunian, dengan meningkatkan pendidikan kesehatan.
b) Tersedia sarana-sarana kedokteran, pemeriksaan penderita, kontak atau suspect gambas, sering dilaporkan, pemeriksaan dan pengobatan dini bagi penderita, kontak, suspect, perawatan.
c) Pengobatan preventif, diartikan sebagai tindakan keperawatan terhadap penyakit inaktifdengan pemberian pengobatan INH sebagai pencegahan.
d) BCG, vaksinasi, diberikan pertama-tama kepada bayi dengan perlindungan bagi ibunya dan keluarhanya. Diulang 5 tahun kemudian pada 12 tahun ditingkat tersebut berupa tempat pencegahan.
e) Memberantas penyakti TBC pada pemerah air susu dan tukang potong sapi, dan pasteurisasi air susu sapi.
f) Tindakan mencegah bahaya penyakit paru kronis karean menghirup udara yang tercemar debu para pekerja tambang, pekerja semen dan sebagainya.
g) Pemeriksaan bakteriologis dahak pada orang dengan gejala tbc paru.
h) Pemeriksaan screening dengan tubercullin test pada kelompok beresiko tinggi, seperti para emigrant, orang-orang kontak dengan penderita, petugas dirumah sakit, petugas/guru disekolah, petugas foto rontgen.
i) Pemeriksaan foto rontgen pada orang-orang yang positif dari hasil pemeriksaan uberculin test.

3. CAMPAK
Campak merupakan penyakit virus yang dapat mendatangkan komplikasi serius. Pada masa lalu, infeksi campak sangat umum di kalangan anak-anak.
Kini campak jarang terjadi di NSW karena imunisasi.
Apa gejalanya?
• Gejala pertama adalah demam, lelah, batuk, hidung beringus, mata merah dan sakit, dan terasa kurang sehat. Beberapa hari kemudian timbul ruam. Ruam tersebut mulai pada muka, merebak ke tubuh dan berlanjut selama 4-7 hari.
• Sampai sepertiga penderita campak mengalami komplikasi, yang termasuk infeksi telinga, diare dan pneumonia, dan mungkin memerlukan rawat inap. Kira-kira satu dari setiap 1000 penderita campak terkena ensefalitis (pembengkakan otak).
Bagaimana penyakit ini ditularkan?
• Campak biasanya ditularkan sewaktu seseorang menyedot virus campak yang telah dibatukkan atau dibersinkan ke dalam udara oleh orang yang dapat menularkan penyakit. Campak merupakan salah satu infeksi manusia yang paling mudah ditularkan. Berada di dalam kamar yang sama saja dengan seorang penderita campak dapat mengakibatkan infeksi.
• Penderita campak biasanya dapat menularkan penyakit dari saat sebelum gejala timbul sampai empat hari setelah ruam timbul. Waktu dari eksposur sampai jatuh sakit biasanya adalah 10 hari. Ruam biasanya timbul kirakira 14 hari setelah eksposur.

Siapa saja yang menghadapi risiko?
Campak umum sebelum tahun 1966, maka kebanyakan orang yang lahir sebelum itu mempunyai kekebalan. Orang yang menghadapi risiko campak termasuk:
• orang yang lahir pada atau sejak tahun 1966 yang belum pernah menderita campak dan belum pernah menerima dua dosis vaksin Campak- Gondong-Rubela (MMR) dari usia 12 bulan
• orang yang mempunyai sistem kekebalan yang lemah (mis. orang yang sedang menerima kemoterapi atau radioterapi untuk kanker atau orang yang sedang menerima dosis besar obat steroid) meskipun telah diimunisasi sepenuhnya atau menderita infeksi campak sebelumnya
• orang yang tidak mempunyai kekebalan dan melakukan perjalanan ke luar
negeri.
Bagaimana penyakit ini dicegah?
• Perlindungan terbaik terhadap campak adalah imunisasi dengan dua dosis vaksin MMR. Vaksin ini memberikan perlindungan terhadap infeksi campak, di samping gondong dan rubela.
• Vaksin MMR harus diberikan kepada anak-anak pada usia 12 bulan dan osis kedua harus diberikan pada usia 4 tahun.
• Siapapun yang lahir pada atau sebelum tahun 1966 atau belum menderita infeksi campak atau menerima vaksinasi MMR harus memastikan bahwa telah menerima dua dosis vaksin MMR dengan selang waktu sekurangkurangnya empat minggu.
• Adalah aman untuk menerima vaksin lebih dari dua kali, maka orang yang kurang pasti harus divaksinasi.
• Penderita campak harus tetap tinggal di rumah sampai tidak lagi dapat menularkan penyakit (yaitu sampai 4 hari setelah ruam timbul).
• Bagi orang yang tidak mempunyai kekebalan dan telah mempunyai kontak dengan seorang penderita campak, adakalanya infeksi masih dapat dicegah dengan vaksin MMR jika diberikan dalam waktu 3 hari setelah eksposur atau dengan imunoglobulin dalam waktu 7 hari setelah eksposur.
Penanganan
• Bila campaknya ringan, anak cukup dirawat di rumah. Kalau campaknya berat atau sampai terjadi komplikasi maka harus dirawat di rumah sakit.
• Anak perlu dirawat di tempat tersendiri agar tidak menularkan penyakitnya kepada yang lain. Apalagi bila ada bayi di rumah yang belum mendapat imunisasi .
• Beri penderita asupan makanan bergizi seimbang dan cukup untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya. Makanannya harus mudah dicerna, karena anak campak rentan terjangkit infeksi lain, seperti radang tenggorokan, flu, atau lainnya. Masa rentan ini masih berlangsung sebulan setelah sembuh karena daya tahan tubuh penderita yang masih lemah.
• Lakukan pengobatan yang tepat dengan berkonsultasi pada dokter.
• Jaga kebersihan tubuh anak dengan tetap memandikannya.
• Anak perlu beristirahat yang cukup.

4. ANGKA KEMATIAN IBU
Kematian ibu adalah kematian perempuan pada saat hamil atau kematian dalam kurun waktu 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lamanya kehamilan atau tempat persalinan, yakni kematian yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, tetapi bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan, terjatuh dll (Budi, Utomo. 1985).

Angka Kematian Ibu (AKI) adalah banyaknya kematian perempuan pada saat hamil atau selama 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lama dan tempat persalinan, yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, dan bukan karena sebab-sebab lain, per 100.000 kelahiran hidup.
Penyebab Kematian Ibu
a) perdarahan, eklampsia atau gangguan akibat tekanan darah tinggi saat kehamilan, partus lama, komplikasi aborsi, dan infeksi. Perdarahan, yang biasanya tidak bisa diperkirakan dan terjadi secara mendadak, bertanggung jawab atas 28 persen kematian ibu. Sebagian besar kasus perdarahan dalam masa nifas terjadi karena retensio plasenta dan atonia uteri. Hal ini mengindikasikan kurang baiknya manajemen tahap ketiga proses kelahiran dan pelayanan emergensi obstetrik dan perawatan neonatal yang tepat waktu. Eklampsia merupakan penyebab utama kedua kematian ibu, yaitu 13 persen kematian ibu di Indonesia (rata-rata dunia adalah 12 persen)5. Pemantauan kehamilan secara teratur sebenarnya dapat menjamin akses terhadap perawatan yang sederhana dan murah yang dapat mencegah kematian ibu karena eklampsia

b) Aborsi yang tidak aman. bertanggung jawab terhadap 11% kematian ibu di Indonesia (ratarata dunia 13%). Kematian ini sebenarnya dapat dicegah jika perempuan mempunyai akses terhadap informasi dan pelayanan kontrasepsi serta perawatan terhadap komplikasi aborsi. Data dari SDKI 2002–2003 menunjukkan bahwa 7,2 persen kelahiran tidak diinginkan.
c) Prevalensi pemakai alat kontrasepsi. Kontrasepsi modern memainkan peran penting untuk menurunk an kehamilan yang tidak diinginkan. SDKI 2002–2003 menunjukkan bahwa kebutuhan yang tak terpenuhi (unmet need) dalam pemakaian kontrasepsi masih tinggi, yaitu sembilan persen dan tidak mengalami banyak perubahan sejak 1997. Angka pemakaian kontrasepsi (Contraceptive Prevalence Rate) di Indonesia naik dari 50,5 persen pada 1992 menjadi 54,2 persen pada 20026 (Gambar 5.2 dan Tabel 5.1). Untuk indikator yang sama, SDKI 2002– 2003 menunjukkan angka 60.3 persen.
d) Sepsis sebagai faktor penting lain penyebab kematian ibu sering terjadi karena kebersihan (hygiene) yang buruk pada saat persalinan atau karena penyakit menular akibat hubungan seks yang tidak diobati. Sepsis ini berkontribusi pada 10% kematian ibu (rata-rata dunia 15 persen). Deteksi dini terhadap infeksi selama kehamilan, persalinan yang bersih, dan perawatan semasa nifas yang benar dapat menanggulangi masalah ini. Partus lama, yang berkontribusi bagi sembilan persen kematian ibu (rata-rata dunia 8 persen), sering disebabkan oleh disproposi cephalopelvic, kelainan letak, dan gangguan kontraksi uterus.
e) Penyebab tidak langsung. Risiko kematian ibu dapat diperparah oleh adanya anemia dan penyakit menular seperti malaria, tuberkulosis (TB), hepatitis, dan HIV/AIDS. Pada 1995, misalnya, prevalensi anemia pada ibu hamil masih sangat tinggi, yaitu 51 persen, dan pada ibu nifas 45 persen.10 Anemia pada ibu hamil mempuyai dampak kesehatan terhadap ibu dan anak dalam kandungan, meningkatkan risiko keguguran, kelahiran prematur, bayi dengan berat lahir rendah, serta sering menyebabkan kematian ibu dan bayi baru lahir. Faktor lain yang berkontribusi adalah kekurangan energi kronik (KEK). Pada 2002, 17,6 persen wanita usia subur (WUS) men derita KEK.11 Tingkat sosial ekonomi, tingkat pendidikan, faktor budaya, dan akses terhadap sarana kesehatan dan transportasi juga berkontribusi secara tidak langsung terhadap kematian dan kesakitan ibu. Situasi ini diidentifikasi sebagai “3 T” (terlambat). Yang pertama adalah terlambat deteksi bahaya dini selama kehamilan, persalinan, dan nifas, serta dalam mengambil keputusan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan ibu dan neonatal. Kedua, terlambat merujuk ke fasilitas kesehatan karena kondisi geografis dan sulitnya transportasi. Ketiga, terlambat penanganan
Menurunkan kesakitan dan kematian ibu telah menjadi salah satu prioritas utama dalam pembangunan sektor kesehatan sebagaimana tercantum dalam Propenas. Kegiatan- kegiatan yang mendukung upaya ini antara lain meningkatkan pelayanan kesehatan reproduksi, meningkatkan pemberantasan penyakit menular dan imunisasi, meningkatkan pelayanan kesehatan dasar dan rujukan, menanggulangi KEK, dan menanggulangi anemia gizi besi pada wanita usia subur dan pada masa kehamilan, melahirkan, dan nifas.
Kehamilan Aman. Mengacu pada Indonesia Sehat 2010, telah dicanangkan strategi Making Pregnancy Safer (MPS) atau Kehamilan yang Aman sebagai kelanjutan dari program Safe Motherhood, dengan tujuan untuk mempercepat penurunan kesakitan dan kematian ibu dan bayi baru lahir. MPS terfokus pada pendekatan perencanaan sistematis dan terpadu dalam intervensi klinis dan sistem kesehatan serta penekanan pada kemitraan antar institusi pemerintah, lembaga donor, dan peminjam, swasta, masyarakat, dan keluarga. Perhatian khusus diberikan pada penyediaan pelayanan yang memadai dan berkelanjutan dengan penekanan pada ketersediaan penolong persalinan terlatih. Aktivitas masyarakat ditekankan pada upaya untuk menjamin bahwa wanita dan bayi baru lahir memperoleh akses terhadap pelayanan.
Strategi. Ada empat strategi utama bagi upaya penurunan kesakitan dan kematian ibu. Pertama, meningkatkan akses dan cakupan pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir yang berkualitas dan cost effective. Kedua, membangun kemitraan yang efektif melalui kerja sama lintas program, lintas sektor, dan mitra lainnya. Ketiga, mendorong pemberdayaan wanita dan keluarga melalui peningkatan pengetahuan dan perilaku sehat. Keempat, mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjamin penyediaan dan pemanfaatan pelayanan ibu dan bayi baru lahir.
Pesan kunci MPS. Strategi MPS memiliki tiga pesan kunci, yaitu setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih; setiap komplikasi obstetrik dan neonatal mendapatkan pelayanan yang memadai; dan setiap wanita usia subur mempunyai akses terhadap pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan komplikasi keguguran.
Kelompok sasaran. Perhatian khusus perlu diberikan kepada kelompok masyarakat berpendapatan rendah baik di perkotaan dan pedesaan serta masyarakat di daerah terpencil. Program Jaring Pengaman Sosial (JPS)—yang telah dimulai sejak 1998 telah menyediakan pelayanan pelayanan kesehatan dasar dan bidan di desa secara gratis bagi penduduk miskin—perlu dipertahankan dengan berbagai cara.
Konteks lebih luas. Terlepas dari kebijakan dan program dengan fokus pada sektor kesehatan, diperlukan juga penanganan dalam konteks yang lebih luas di mana kematian ibu terjadi. Kematian ibu sering disebabkan oleh berbagai faktor yang kompleks yang menjadi tanggung jawab lebih dari satu sektor. Terdapat korelasi yang jelas antara pendidikan, penggunaan kontrasepsi, dan persalinan yang aman. Pelayanan kesehatan reproduksi remaja harus ditangani dengan benar, mengingat besarnya masalah. Selain itu, isu gender dan hak-hak reproduksi baik untuk laki-laki maupun perempuan perlu terus ditekankan dan dipromosikan pada semua level.
5. LAHIR MATI

Lahir mati adalah kematian seorang bayi dari kandungan yang berumur paling sedikit 28 minggu, tanpa menunjukkan tanda-tanda kahidupan.
Penyebab lahir mati
• Kecacatan kelahiran – biasanya berpunca daripada struktur atau kecacatan kromosom.
• Tali pusat terjatuh (prolaps), iaitu apabila tali pusat terkeluar dari faraj terlebih dahulu sebelum bayi. Ini menghalang pengaliran darah dan oksigen.
• Masalah uri (plasenta)
o Pemisahan uri dari dinding rahim (uterus). Bayi tidak mungkin dapat hidup sekiranya uri telah terpisah dari tempat implantasinya.
o Implantasi uri di bahagain pangkal rahim/bahagian bawah rahim atau serviks. Keadaan ini dipanggil plasenta previa. Sekiranya keadaan ini tidak dikesan di peringkat awal, ia boleh menggagalkan peluang bayi untuk hidup dan pendarahan yang serius mungkin berlaku.
• Keadaan kesihatan ibu mengandung sebelum dan juga semasa kehamilan seperti ibu mengidap diabetes (kencing manis) dan tekanan darah tinggi. Keadaan ini merupakan penyebab penting kejadian lahir mati dan masalah ini perlu dipantau sepanjang tempoh kehamilan.
• Masalah pada tali pusat
o tali pusat terpintal menyebabkan terganggunya pengaliran oksigen dan juga nutrien kepada bay
o tali pusat itu terbelit pada leher bayi, yang menjadikan bayi tercekik dan lemas apabila ia mula bergerak ke bahagian bawah
• Tiada punca yang dapat dikenalpasti (merupakan separuh dari kes lahir mati) tetapi kemungkinan besar disebabkan oleh jangkitan.
Tanda-tanda dan gejala lahir mati
Biasanya tidak ada gejala atau simptom yang khusus atau pun sebarang amaran terhadap kejadian lahir mati. Walau bagaimanapun, sekiranya tanda-tanda atau gejala-gejala berikut berlaku, segeralah berjumpa doktor ataupun bidan yang terlatih:
• Pendarahan dari faraj – mungkin menjadi petanda kepada satu masalah yang lebih serius.
• Kurang atau tiada pergerakan janin
• Perubahan pada aktiviti atau pergerakan biasa bayi.
• Sakit pinggang (bahagian pelvis), belakang dan juga bahagian bawah abdomen – terasa menyucuk-nyucuk
• Tidak lagi terasa seperti sedang hamil dan anda dapat merasakan beberapa perubahan fizikal seperti payu dara menjadi semakin kecil.
Pencegahan
• Lazimnya, lahir mati berlaku tanpa sebarang amaran, tetapi kadang-kala ia boleh dijangka dan dielakkan
• Penilaian ke atas janin dijalankan pada ibu-ibu yang berisiko tinggi terhadap masalah lahir mati – seperti ibu-ibu yang mempunyai masalah kesihatan (yang ada diabetes dan tekanan darah tinggi) terutama pada minggu terakhir kehamilan. Sekiranya semasa penilaian janin tersebut terdapatnya penemuan yang luar biasa, maka usaha untuk melahirkan bayi itu lebih awal mungkin dapat mengelakkan kejadian lahir mati.
• Bagi sesetengah kes terpecah uri atau abrubsi plasenta (placenta abrubtion), pembedahan kecemasan Caesarean mungkin dapat menyelamatkan nyawa.
• Carta pergerakan janin digunakan oleh para doktor untuk menjejak pergerakan janin dilakukan beberapa kali dalam sehari, terutamanya selepas minggu ke 26 kehamilan. Sekiranya bayi itu kurang menendang atau bergerak dari biasa, penilaian lanjutan ke atas janin perlu dijalankan. Bagi sesetengah kes, sekiranya doktor dapati ada keabnormalan yang berlaku, maka aruhan kelahiran dengan menjalankan pembedahan Ceasarean mungkin dapat menyelamatkan keadaan.
• Jaga kesihatan diri anda dengan baik sebelum mengandung. Setelah mengandung, dapatkan penjagaan ibu mengandung seawal mungkin untuk memastikan keadaan bayi anda sihat. Doktor akan menjalankan ujian saringan bagi mengesan sebarang jangkitan. Di samping itu, beliau akan mengkaji rekod kesihatan dan memastikan sebarang keadaan yang serius atau kronik telah dirawat dengan sewajarnya.

Langkah-langkah berikut dapat membantu anda menikmati satu kehamilan yang sehat
• Bersenam dan, amalkan pemakanan yang baik dan ambillah 400mg (mikrogram) asid folik setiap hari
• Elakkan pengambilan alkohol, merokok atau ubat-ubatan kecuali yang diberikan oleh doktor anda.
• Jauhkan diri dari racun serangga

Segera hubungi doktor sekiranya :
• Anda hamil dan mengalami pendarahan, kesakitan atau kekejangan pada bahagian pinggang atau pelvis, belakang dan juga bahagian bawah abdomen.
• Anda dapati janin anda tidak begerak dengan aktif seperti sepatutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s